4 Kesalahan Fatal Usaha Foto & Video Yang Bisa Bikin Gulung Tikar

Photo : pixabay.com

Dari banyak kisah yang matsuting.com lihat, dengar, dan rasakan, profesi fotografer dan videografer seringkali dianggap sepele dan dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah.

Karena fotografer dan videografer yang terkenal dan kaya hanya segelintir saja dibanding yang brangkut dan mandeg.

Hal ini seringkali diungkapkan para orang tua ketika melihat anaknya akan membuka jasa dokumentasi pernikahan. Juga sering diungkapkan ketika mengetahui anak gadisnya dilamar oleh tukang foto atau tukang suting kawinan. Hahaha!

Paradigma ini bukanlah sentilan belaka, tapi sudah sering terjadi di tengah-tengah masyarakat yang serba materialistis ini. Sering kita lihat studio foto dan video yang baru merintis, dengan semangat yang menggebu-gebu terus melakukan inovasi, tapi lama sekali berkembangnya. Atau ketika sudah berkembang tiba-tiba saja gulung tikar, buyar entah kemana.

Oke sebelum itu terjadi pada studio yang kita kelola, mari kita kupas permasalahan-permasalahan yang sering menjadi penghambat kemajuan usaha fotografi dan videografi yang kita kelola.

1. PERANG HARGA

Perang sangat berpotensi pada kehancuran, begitu juga yang terjadi pada perang harga di jasa foto dan video. Hal ini biasa terjadi pada pelaku jasa foto dan video pemula atau pemain pinggiran, yang seringkali ingin memenangkan konsumen dengan mudah dan cepat.

Pemain yang terlibat perang harga biasanya tidak memiliki wawasan yang baik dalam manajemen dan pemasaran. Mereka hanya berprinsip semakin banyak project (pekerjaan) semakin banyak pula keuntungan yang didapat tanpa memperdulikan hitungan keuangan di setiap project-nya.

Alhasil, hanya capek dan stress-lah yang didapat, tanpa dapat menyisihkan dana lebih untuk disimpan. Dan ketika terjadi permasalahan di tengah jalan, misal terjadi kerusakan kamera atau alat, mereka akan kelimbungan mencari pinjaman dana segar.

Sebagai referensi, di sebuah daerah di Jawa Timur, pasaran jasa video untuk dokumentasi pernikahan dipatok dengan harga Rp. 300 ribu - Rp. 400 ribu per CD, dengan fasilitas Kamera HD, lampu 1000watt, editing video, record audio dan fasilitas-fasilitas tambahan yang berbeda-beda pada setiap studio.

Kita asumsikan saja biaya produksi yang dikeluarkan (meski sangat minim) sebesar 200 ribu rupiah setiap project. Jadi keuntungan yang didapat sebesar 100 - 200 ribu. Entah sadar atau tidak, mereka telah mengabaikan kelayakan gaji kru, penyusutan nilai peralatan, fee manajemen, fee marketing, dan biaya-biaya lain yang seharusnya menjadi nyawa dari kelangsungan hidup sebuah perusahaan.

Terus kita harus bagaimana ?

Yang harus kita lakukan adalah konsisten mendikte pasar. Artinya kita pertahankan harga yang layak. Lama kelamaan konsumen akan patuh.

Studio lain banting harga, gimana kalau kita tidak kebagian konsumen?

Biarkan saja mereka banting harga, nanti juga bakal capek sendiri. Mungkin lama-kelamaan juga banting kamera. Hahaha...!

Sebelum mereka banting kamera, ada baiknya kita ajak duduk sama-sama untuk mendiskusikan harga yang layak untuk ditetapkan. Kalau memungkinkan ajak semua pemilik studio di daerah kita untuk membentuk sebuah asosiasi supaya lebih mudah koordinasinya. Selain itu kita bisa saling bagi pekerjaan.

Asah terus kemampuan marketing anda. Kalau bisa fokuslah pada konsumen cerdas dan kaya. Biasanya mereka lebih memprioritaskan kualitas dari pada harga.

Masuklah ke dalam komunitas-komunitas hobi yang biasanya diikuti oleh orang-orang kaya seperti golf, menembak, off-road, pecinta bonsai, dan lain sebagainya.

Beri tahu mereka bahwa usaha kita bergerak di bidang videografi atau fotografi profesional yang mahal. Mereka akan melihat harga sebagai indikator bagi kualitas sebuah produk atau jasa.

Terus siapa yang akan mengerjakan konsumen kelas bawah?

Buatlah paket ekonomis khusus untuk kalangan bawah. Minimalisir biaya produksi dengan menghemat peralatan, kru, dan durasi pekerjaan.

Misal : gunakan satu orang kameraman tanpa ditemani kru pendamping. Jika ada berdayakan kru baru atau kru magang yang masih belum memiliki kemampuan dan pengalaman yang banyak. Hal ini bisa kita gunakan untuk kesempatan magang atau menambah jam terbang kru baru.

Peralatan yang digunakan hanya kamera + lampu LED + tripod saja. Editing seperlunya (seleksi gambar yang layak, kasih judul terus render :D). Durasi pekerjaan di lapangan juga kita batasi, misal : dalam satu paket kita hanya meliput acara selama 8 jam saja, jadi tidak seharian penuh.

Namun jika tidak ingin ribet, lempar saja pekerjaan itu pada studio lain. Biasanya mereka akan memberikan fee untuk orang yang memberi pekerjaan. Enaknya tidak usah kerja tapi dapat duit. Hehe!

2. MENGGAJI KRU SEPERTI BURUH

Sebagian besar studio menggaji kru-nya dengan sistem fee per project, artinya kru akan mendapatkan penghasilan setiap kali mengerjakan sebuah project.

Jadi jika dalam sebulan tidak ada project sama sekali maka berubahlah status mereka menjadi tuna karya alias pengangguran tanpa penghasilan, yang berpotensi menjadi tuna susila. Hahaha! Na'udzubillah.

Setiap pengusaha pasti mendambakan keuntungan yang berlimpah dengan modal yang minim, tak terkecuali pengusaha jasa foto dan video. Dengan prinsip seperti ini, tanpa dibekali pemahaman yang baik, pengelola studio akan seenaknya memangkas biaya produksi termasuk gaji kru.

Biasanya pemilik studio menetapkan gaji sesuai dengan UMH (Upah Minimum Harian). Yang mana oleh pemerintah UMH ditetapkan untuk pekerjaan kelas buruh kasar atau pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian khusus.

Parahnya, seperti Mat Suting jelaskan di atas, studio tidak setiap hari mendapatkan pekerjaan, kecuali jika sedang musim kawinan. Jadi para kru belum tentu mendapatkan penghasilan setiap hari.

Jika ini terjadi pada studio kita, cepat atau lambat akan memicu kesenjangan sosial ekonomi antara bos dan kru. Seperti dijelaskan Ippho Santosa dalam bukunya "10 Rahasia Terlarang", bahwa ketidaksetaraan (kesenjangan) akan memicu kehancuran, kalau tidak percaya silahkan baca bukunya.

Terbukti banyak pemilik studio yang heran, kenapa kok jarang ada kru yang betah bekerja dengannya. Akar permasalahannya kurang lebih sama, yakni masalah kesejahteraan. Kru yang sudah berpengalaman biasanya memilih membuka studio sendiri, meski harus sewa alat sana-sini.

Akibatnya studio yang ditinggalkan harus mencari kru baru merkipun harus mendidik kru dari nol. Dan akan bermunculan studio-studio baru yang didirikan oleh kru-kru yang memisahkan diri yang berpotensi terjadinya perang harga seperti Mat Suting paparkan pada poin nomor 1.

Perlu kita ketahui untuk membesarkan sebuah studio, yang harus kita lakukan adalah belajar dari studio yang sudah besar. Karena studio yang besar selalu digawangi oleh seorang yang cerdas, dan biasanya orang cerdas akan wellcome pada siapa saja yang benar-benar ingin belajar.

Pelajari sistem manajemennya, penggajian kru, pola pemasarannya

Selain mendambakan keuntungan yang besar, Studio yang besar juga memprioritaskan kesejahteraan kru dan karyawan. Hal ini akan menjadi motivasi bagi manajemen terutama marketing untuk lebih gencar mencari project.

Dari pengamatan di lapangan, ada dua sistem penggajian yang Mat Suting anggap layak ditiru dan diterapkan di studio kita bersama :

  • Sistem Gaji Bulanan : Pengelola studio bersedia menggaji kru setiap bulannya. Jika sedang mengerjakan project yang bernilai besar kru mendapatkan fee atau tambahan bayaran. Tentunya untuk menghindari cashflow yang buruk, pengelola studio diharuskan merpertajam kinerja divisi marketing. Sistem ini membutuhkan keyakinan besar pengelola atau pemilik studio, keyakinan pada besarnya usahanya juga keyakinan pada kemampuan untuk mensejahterakan karyawan.
  • Sistem Bagi Hasil : Pada sistem ini keuntungan akan dibagikan sesuai kesepakatan, setelah dikurangi biaya produksi dan biaya-biaya lain. Biasanya dalam sistem ini kru yang terlibat berstatus freelance, jadi kru boleh-boleh saja mengambil pekerjaan dengan studio lain. Peralatan yang digunakan dalam project akan dihitung sewa. Porsi pembagian haruslah disepakati bersama sebelum mengerjakan sebuah project.
Sistem penggajian di atas bukanlah sistem yang baku yang harus kita terapkan sepenuhnya, silahkan diskusikan dengan kru dan pihak manajemen. Kita berhak menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi yang ada di sekitar studio yang kita kelola
.

3. SOMBONG (MERASA PAKAR)

Ketika studio sudah mulai berkembang, hal yang wajar terjadi pada pengelola studio adalah merasa bangga terhadap prestasinya. Namun rasa bangga yang berlebih berpotensi menjadikan kita sombong.

Tidak sedikit pemilik studio yang merasa sudah sangat master atau merasa sudah pakar. Tanpa sadar bahwa siapa saja yang merasa sudah pintar, berarti dia sudah membatasi kepintarannya.

Artinya keahliannya tidak akan bertambah, karena orang yang orang yang sudah merasa pintar tidak akan pernah mempunyai semangat lagi untuk belajar dengan keras.

Sebaliknya orang yang rendah hati dan merasa bodoh akan terus menerus belajar dengan keras untuk meningkatkan kemampuannya.

Dalam dunia fotografi dan videografi yang terus berkembang, studio dengan keahlian dan pengetahuan yang segitu-segitu saja akan segera tergerus oleh pesaingnya. Dimana arus informasi yang tak terbendung memicu bermunculannya para videografer dan fotografer muda yang memiliki semangat belajar dan kreatifitas prima.

Ditambah lagi teknologi yang semakin berkembang hampir setiap saat, secara otomatis akan memberikan label jadul kepada studio yang tidak up-to-date terhadap teknologi terbaru, di sisi lain konsumen juga semakin cerdas dan berwawasan. Tentunya hal ini akan mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap kualitas dan layanan studio kita.

Yang harus kita lakukan adalah membuang jauh-jauh rasa sombong dan angkuh, agar kita dapat menjaga semangat untuk terus belajar dan mengamati perkembangan teknologi juga pasar.

Untuk mempermudah dan mempercapat pembelajaran, kita bisa memanfaatkan videografer atau fotografer muda untuk belajar bersama atau sekedar berdiskusi.

Bila perlu bentuk sebuah komunitas untuk mereka. Biasanya videografer atau fotografer muda akan lebih senang berdiskusi dengan para senior.

4. HANYA FOKUS PADA SEGMEN PERNIKAHAN

Di Indonesia, sebagian pengusaha foto dan video terutama pemula, hampir sepenuhnya bergantung pada segmen pernikahan. Akibatnya profesi videografer dan fotografer hampir selalu dikaitkan dengan acara pernikahan, terutama di daerah.

Penyebabnya beragam, mulai dari budaya ikut-ikutan karena kurang kreatif, sampai minimnya wawasan tentang marketing. Padahal dalam bidang usaha apa saja, kreatifitas dan kemampuan memasarkan adalah hal yang sangat dibutuhkan ketika sebuah usaha ingin berkembang.

Sebenarnya sah-sah saja kita fokus pada segmen pernikahan, namun di Indonesia, yang biasanya masih mematuhi adat istiadat, terdapat bulan-bulan tertentu yang dilarang melaksanakan pernikahan. Pada bulan-bulan tersebut studio yang hanya mengandalkan segmen pernikahan akan mengalami penurunan pendapatan.

Perlu kita ketahui bersama di zaman digital ini, foto dan video hampir-hampir menjadi kebutuhan sekunder bahkan primer, baik itu bagi kalangan lembaga ataupun personal. Dan peluang sebenarnya terbuka lebar, asal kita jeli membaca peluang.

Contohnya, kita bisa bekerja sama dengan guru-guru TK, untuk memberi layanan gratis pembuatan profil sederhana tentang TK atau liputan perpisahan. Namun kita atur kesepakatan dengan pihak TK supaya mewajibkan setiap murid untuk membeli DVD yang nantinya kita perbanyak.

Orang tua murid tidak akan keberatan membelinya jika anaknya terpampang dalam video tersebut. Selain kita membantu pomosi TK tersebut, kita akan mendapat penghasilan yang lumayan.

Untuk mempermudah koordinasi pelaksanaan dengan guru-guru TK, sisihkan sedikit keuntungan penjualan DVD untuk diberikan pada mereka. Haahaa!

Coba bayangkan berapa keuntungan yang kita dapatkan, jika kita bisa menggarap TK se-kecamatan atau bahkan se-kabupaten.

Contoh lain, kita bisa ajak anak-anak SMA satu atau beberapa kelas untuk patungan membuat film pendek, yang nantinya akan ditayangkan pada malam perpisahan. Tentunya dengan manajemen produksi yang disesuaikan dengan anggaran hasil patungan.

Untuk urusan pemasaran, salah satu metode yang sangat efektif adalah menjalin pertemanan. Di Indonesia, bukan maksud kolusi atau nepotisme, orang akan lebih memilih menggunakan jasa dari teman atau kenalan terdekatnya. Hal inilah mengapa jaringan pertemanan sangat berpengaruh dalam kemajuan usaha jasa, khususnya studio foto dan video.

Seperti Mat Suting jelaskan pada poin nomor 1, jalin pertemanan dengan orang-orang kaya dan para pemegang keputusan. Karena khusus untuk pemula, kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan brosur dan banner untuk mendapatkan klien yang royal.

Orang kaya biasanya tidak akan keberatan membayar mahal untuk memvideokan setiap moment di kehidupannya. Tawarkan pembuatan video klip untuk ditayangkan pada pembukaan sebuah acara seperti ulang tahun anak, ulang tahun penikahan, peresmian gedung, keberangkatan haji, selamatan kelahiran, dsb.

Bahkan untuk orang kaya yang narsis, mereka tidak akan segan membuat video klip atau profil personal maupun keluarga.

Intinya tetaplah kreatif dan peka terhadap peluang, dan tetap meningkatkan kualitas dengan terus belajar dan luwes terhadap perkembangan teknologi.

Silahkan baca Cara Jitu Memasarkan Jasa Video dan Foto

Itulah tadi sekelumit pengalaman yang MatSuting.com bagikan di artikel ini, diharapkan dengan wawasan dan pemahaman yang baik, kita semua bisa mengembangkan usaha jasa video dan foto menjadi semakin besar dan mensejahterakan.

Terima kasih dan semoga bermanfaat!
Tag : Manajemen
0 Komentar untuk "4 Kesalahan Fatal Usaha Foto & Video Yang Bisa Bikin Gulung Tikar"

Back To Top